Antara Kuliah dan Gelar

Suatu ketika aku ditanya oleh seorang teman, “Kalau boleh tau gelar orang tuamu apa?”, dia berkata secara langsung padaku. Aku menjawab dengan tidak jelas, yaitu dengan jawaban relatif “ya gitu deh, kayaknya gak bergelar”.

Kejadian yang saya alami di atas merupakan kejadian wajar dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap gelar adalah sesuatu yang harus ditonjolkan. Meskipun hal itu tidak salah tapi menurutku tidak sepenuhnya benar. Anggapan di masyarakat bahwa gelar dapat membedakan dengan orang lain, dapat meningkatkan derajat yang memiliki gelar, dan mungkin dianggap mentereng jika dalam undangan pernikahan kedua orang tua memiliki gelar. Aku lebih setuju jika gelar dimaksudkan dengan cara dan penafsiran yang pas.

Bagiku sendiri gelar itu sebagai tanggung jawab moral terhadap dunia yang telah dia tekuni, semakin tinggi gelar seseorang pada ilmu tertentu maka tanggung jawab dia semakin besar. Maka hal yang salah jika anda kuliah hanya untuk memperoleh gelar. Atau salah lagi jika anda berkuliah untuk mencari pekerjaan, meskipun gelar mendukung dalam mencari kerja. Tujuan kuliah yang benar adalah untuk mencari ilmu kemudian mengajarkan dan mengamalkannya, bukan untuk cari gelar untuk tujuan yang lain. Pada tulisan kali ini akan saya tunjukkan kesalahan kesalahan yang ada dalam masyarakat mengenai gelar dan anggapan yang menyertainya.

  1. Banyak  orang saat ini mengambil magister, entah saat sudah bekerja atau setelah kuliah S1, dan mereka mengambil jurusan yang tidak linier antara S1 dan S2. Dengan anggapan bahwa jika berkuliah lagi maka “gelar saya akan bertambah banyak” atau “saya dapat menjadi kepala sekolah” atau ” saya bisa dihormati”, dll. Hal seperti ini yang menjadi kesalahan di kebanyakan orang, entah kita sadari atau tidak, memang begitulah yang ada di Indonesia.
  2. Memiliki gelar yang panjang berarti kita harus berkumpul dengan yang sederajat dengan gelar kita, meskipun kasus ini lebih sedikit dari kasus nomer 1, tapi ini juga menjadi fokus yang saya bicarakan. Sekali lagi gelar pendidikan membuat anda memiliki banyak kesibukan, sehingga bukan kita yang membatasi diri terhadap pergaulan, tetapi memang waktu kita tidak cukup banyak untuk bergaul dengan semua orang. Profesor yang baik akan berkata “maaf kalau besok saya tidak bisa, karena saya ada rapat, meskipun dipaksapun tidak bisa karena waktu saya mepet”, lah ini yang saya maksud pembatasan oleh waktu dan bukan pembatasan oleh diri sendiri. Kebanyakan yang terjadi di masyarakat malah seseorang jika telah memiliki gelar S3 dia akan sedikit sombong dalam bergaul. Saya pernah mengalami itu di salah satu lingkungan tempat saya bekerja dulu. “Tetaplah tersenyum dan berkatalah tidak jika anda tidak bisa”
  3. Tidak jarang ada anggapan bahwa kita harus menikah dengan orang yang memiliki gelar yang sepadan. Dan pernah iseng saya tanayakan kepada khalayak umum, dan kebanyak orang yang saya tanya tidak memiliki alasan mengapa harus begitu😀. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa karena biar keren wkekekekekke. Tetapi pendapatku sendiri adalah “dia menciptakan pasangan dari jenismu” <<< dari ini sudah dapat dijelaskan mengapa orang tua dulu mengatakan “bibit, bebet, bobot”. Karena pemikiran itu lebih mahal dari pada gelar anda, jika pemikiran anda dihambat atau malah tidak maju karena pasangan anda, berarti itu adalah jenis anda yang sebenarnya. Yang saya tegaskan disini, sebenarnya bukan gelarnya. Saya ulangi “bukan gelarnya”, tapi mungkin kepada pemikiran. Karena sekali anda melangkah, waktu tidak bisa kembali.
  4. Kuliah gak bekerja ngapain? atau kuliah tapi jadi Ibu rumah tangga?. wkekekeke yang ini sering aku temui. Saya tegaskan bahwa jika anda kuliah dan anda menjadi ibu rumah tangga maka anda mendidik anak dengan gelar S1, coba anda logika “Berapa suami anda membayar untuk pembantu rumah tangga yang S1?”😀 gak bakalan ada kan? karena itu anda mendidik anak dengan baik karena anda telah mengerti konsep kuliah yang benar. Kapan ya punya pembantu S2 gitu wkekekek (kalau pembantunya S2, lah majikannya S…. berapa? STMJ paling wekkekekekekekekek)

4 kasus itu adalah yang sering terjadi di masyarakat, tetapi apa yang seharusnya terjadi, apa yang seharusnya dirasakan dan apa yang seharusnya anda fikirkan mengenai gelar? saya tuliskan dibawah ini :

  • Gelar bukan untuk tujuan dipamerkan, tetapi yang benar menurut saya adalah karena menghargai keilmuan yang anda ambil. Makanya ada profesor yang akan marah jika namanya ada yang salah tulis. Dan ini adalah benar bagi saya
  • Foto wisuda juga tidak untuk dipamerkan, melainkan hanya sebagai kenangan yang harus disimpan dengan baik. Meski ada yang menaruh di fb atau di tembok dinding rumah. Saya yakin itu bukan untuk dipamerkan melainkan hanya untuk menghargai keilmuan yang telah dia tekuni (saya juga belum tau memiliki niat memamerkan atau niat tulus😀 tapi kalau dicoba anda juga tidak tau wkekkekeek )
  • Gelar bukan pembeda, tapi pemikiran dapat menjadi pembeda
  • Tidak ada hubungannya antar gelar pendidikan dengan kualitas bergaul, tetapi waktu sangat berhubungan dengan kualitas bergaul. Sehingga karena anda sering melakukan penelitian maka waktu anda untuk bergaul berkurang, dan kualitas bergaul juga akan terpengaruh
  • Menulis adalah sesuatu yang tepat untuk hal besar yang telah anda peroleh, bukan berbicara. Berbicara tidak menunjukkan tanggung jawab anda sebenarnya. Dan hal yang lebih buruk dari berbicara adalah mencuri tulisan orang lain.

Di Indonesia sendiri😀 (paling tidak dari semua lokasi di Indonesia yang telah saya temui), tidak semua orang mengerti konsep kuliah dan gelar secara baik. Akhir kata, itu sih hak anda mau ngapain, kalau tersinggung karena tulisan ini, berarti anda harus menanyakan kembali pada diri anda, “aku termasuk orang yang mana ya?”, jangan sampai anda bilang “dulu waktu aku kuliah kemana aja ya?” wkekeeke. Oke sekarang waktunya berbuat sesuatu, sudah cukup anda melamun dengan tulisan saya ini😀

2 thoughts on “Antara Kuliah dan Gelar

  1. Titien

    Setuju, gelar adalah tanggung jawab bukan buat sok-sok’an apalagi sok pinter. ambil prinsip padi ajha, makin berisi makin merunduk. Semakin banyak ilmunya, semakin kita tahu bahwa ilmu demikian luas untuk dibandingkan dgn apa yg sudah kita tahu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s