Proses

Sudah lama saya tidak menulis, dan ini adalah tulisan saya setelah beberapa bulan tidak menulis karena sibuk mengerjakan tesis. Yup akhirnya saya lulus, begitu banyak cerita yang ingin saya ceritakan disini tetapi mungkin hanya satu topik untuk kali, sekedar untuk mengobati pembaca yang dengan setia mengirim email pada blog ini dan saya tidak membalasnya karena kesibukan yang saya sebutkan. Mungkin akan saya tuliskan secara sederhana.

PROSES

Aku menyebutnya proses, yang biasa tidak dipandang oleh kebanyakan. Hasil adalah saudara kembar dari proses, dan aku juga sangat menginginkan hasil. Masalahnya jika saya anggap sebagai persen, saya lebih setuju jika proses adalah 80% dan hasil adalah 20%. Aku juga tak tau mengapa proses ini lebih melekat dibanding hasil pada otakku, yang aku tau hanya untuk mendapatkan hasil yang baik proses yang baik perlu dilakukan.

Aku membayangkan jika orang mengerti yang kukatakan tersebut, dia akan menangis dan bersujud, dalam hati dia akan berkata “Ya Allah ampunilah dosa hamba karena perkataan saya yang menyakitkan orang lain”. Karena dia akan mengerti jika dia dahulu pernah merasakan proses yang sangat menyakitkan atau proses yang sangat menyenangkan, sedangkan hari ini dia hanya menikmati hasil. Mungkin pepatah klasik akan mengatakan “habis manis sepah dibuang”, ya itulah proses memiliki nasib yang sama dengan kata manis.

aku tidak bisa membedakan kata “aku” dan kata “saya”, bagiku hari ini sudah rancu, apakah saya harus menyebut aku, atau aku harus menyebut saya. Semua orang menganggap dunia adalah miliknya, padahal masih ada saya dan aku yang lain yang berhak ikut menyemainya. Tapi kalau kita kembali ke proses, tidak akan ada yang mengakuinya karena semua orang menginginkan hasil.

Jika anda tau bagaimana proses yang kulakukan untuk menyelesaikan ini, maka anda akan menangis. Seseorang temanku mengatakan “terlalu inspiratif, aku jadi terinduksi”, meski hanya secuil kecil yang kuceritakan padanya. Anda tidak akan tau sejauh apa seseorang melangkah sampai anda benar benar dekat dengannya, atau anda juga tidak akan tau seberapa tinggi dia akan melompat jika anda tidak mengerti bagaimana dia berdiri.

Bahkan untuk membangun rumah saja kita harus menempelkan bata dan semen sedikit demi sedikit, tidak ada yang instan. Semakin instan anda mendapatkan maka semakin instan dia akan menghilang, seperti salah satu hukum fisika “semakin diberi gaya, maka benda akan bergerak semakin jauh”, dan bola karet akan terpental semakin tinggi jika jatuhnya juga semakin jauh.

Anda tidak akan mengerti yang aku katakan, karena dengan hal ini aku bisa merasa tenang. Beberapa menit yang lalu aku berjalan jalan didalam ruangan ini dengan tidak tentu arah, memikirkan kembali hal yang telah aku lakukan. Mohon maaf jika hal ini aku tuliskan.

Hal yang jadi pertanyaan adalah “bagaimana jika seseorang telah berumur 80 tahun, atau mendekati kematian, atau kondisi lain yang menyebabkan orang tersebut terlambat, dan orang tersebut baru menyadari proses adalah inti dari hasil?”

Semoga hari kalian menyenangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s