Negeri 5 Perkara Bukan Negeri 5 Menara

Negeri 5 menara merupakan film yang diadaptasi dari novel, merupakan kehidupan di Indonesia yang dilihat dari sisi keseharian yang sesuai dengan kebudayaan di Indonesia. Sebenarnya film ini mungkin belum selesai, karena arti dari 5 menara di film ini adalah 5 menara yang ada di negara tertentu, tentu saja Monumen Nasional ada disana. Tapi yang saya tulis di sini adalah bukan resensi film negeri 5 menara, tetapi fenomena yang sebenarnya ada di Indonesia atau lebih tepatnya 5 perkara yang marak di Indonesia.

1. Korupsi

Korupsi merupakan perkara yang wajar di Indonesia, bahkan anak SMA diajarkan untuk korupsi, salah satunya melalui organisasi OSIS. Memang tidak semua anggota pengurus OSIS melakukan korupsi, tetapi paling tidak ada peluang untuk belajar organisasi, dan peluang terbuka lebar untuk korupsi. Hal ini sudah mendarah daging hingga tingkat yang lebih tinggi, hingga kasus yang marak di Indonesia. Malah pernah Presiden Indonesia terindikasi korupsi. Salah satu contoh sederhana seorang guru ditugaskan untuk menjadi seksi konsumsi untuk sebuah acara, dan hal yang sudah biasa menjadi rahasia umum yaitu memperoleh laba dari pemesanan makanan.😀 , mungkin tidak semua orang guru melakukan ini, tetapi kebanyakan orang telah mengerti hal ini.

Mengapa korupsi ?

Jawabannnya adalah karena banyak kondisi ekonomi masyarakat tidak layak, atau tidak sesuai kondisi minimum yang seharusnya dari sebuah kehidupan seorang guru, dokter, tentara atau yang lain.. Jadi memang korupsi tidak sepenuhnya salah dari aktor korupsi tersebut, melainkan KONDISI LINGKUNGAN, KONDISI EKONOMI, KEBIASAAN, PELUANG2Premanisme

2. Kemacetan

Hal selanjutnya adalah kemacetan, karena di Indonesia juga merupakan hal biasa jika ada kemacetan baik di Jalan tol, jalan raya, jalan kampung atau malah gang😀 (macet oleh mobil yang parkir atau tukang siomay wkekeke). Hal ini merupakan hal yang wajar, dan juga tidak salah pemerintah saja, jika kemacetan merupakan hal yang biasa. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan pengguna jalan dan kedewasaan pengguna jalan. Memang hal ini merupakan hal yang sulit dirubah. Tetapi peran aktif pemerintah perlu dan sangat perlu dilakukan salah satunya adalah dengan memperlebar jalan, memperhatikan titik titik yang macet, sehingga lebih bijaksana jika menganggarkan secara cepat untuk menyelesaikan kemacetan.

Polisi juga tidak salah sepenuhnya, polisi telah berusaha memperbaiki kemacetan, meskipun tidak banyak pendapat yang menjelaskan  bahwa ada polisi kok tambah macet ya?😀. Tetapi polisi telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Sehingga kerja sama dari berbagai pihak adalah solusi terbaik mengatasi kemacetan
3. Bencana oleh Alam

Bencana alam merupakan hal yang wajar di Indonesia, entah karena manusia di Indonesia yang banyak melakukan kesalahan atau memang kondisi alam di Indonesia. beberapa bencana oleh alam yang terekam dalam ingatan saya adalah wabah jangkrik, tsunami, wabah ulat bulu, pohon banyak yang tumbang.

contoh di atas saya tulis berdasarkan urutan waktu kejadian bencana, bencana banjir dan tanah longsor adalah hal biasa di Indonesia. Contoh diatas merupakan bencana luar biasa yang terjadi di Indonesia, dan mungkin alam menunjukkan sesuatu pada warga Indonesia tetapi tidak semua orang mengetahuinya arti dari setiap kejadian alam.

4. Premanisme

Premanisme di Indonesia adalah tergolong rapi, dan banyak yang tidak mengetahui premanisme di Indonesia telah tumbuh subur. Salah satu yang mencolok adalah jukir, yang saya maksud di sini adalah tukang parkir.😀 ? mengapa?

1 motor = 1000, 1 mobil = 2500, jika satu hari ada 150 motor dan 50 mobil, berapa total pendapatan hari itu seorang jukir?

1 bulan x gaji diatas, berapa ?

Misalkan lahan basah untuk jukir adalah PDAM, Telkom, PLN, POS, Bioskop, Cafe, Restoran. Anda bisa menebak sendiri bukan setiap hari berapa kendaraan yang parkir pada tempat-tempat tersebut?

Tentu saja jika dibandingkan dengan guru honorer hal tersebut sangat jauh, mungkin malah guru PNS kalah juga dengan jukir. Saya pernah dengar obrolan jukir di warung di surabaya yang menegaskan bahwa dia mendapat hasil perminggu adalah 2 juta rupiah jika ditotal satu bulan adalah 4 juta rupiah. <<<<<<<<<<<<<<<

Bayangkan gaji Guru 4A dikalahkan oleh jukir yang (maaf) tidak semua adalah lulusan sarjana. Ini cuma salah satu fenomena premanisme.

Pertanyaan : mengapa jukir jarang terlihat kaya, atau paling tidak memiliki rumah sepantasnya seperti PNS dengan gaji yang lebih besar dari PNS?

Jawabannya adalah seberapa besar manfaat, ridho pelanggan, pahala jika pelanggan merasa tidak iklas karena parkir 1 menit dengan bayar 1000 rupiah?. Sehingga ada orang bilang barokah,< maka istilah ini yang menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut.

5. Tidak Menjalankan Agama

Perkara terkahir adalah semakin besar warga negara yang meninggalkan nilai agama, bahkan di institusi pun hal tersebut dilakukan dengan alasan hal ini merupakan budaya di institusi sehingga tidak dapat di tinggal untuk beribadah. Sungguh mengenaskan. Perkara kelima ini merupakan jawaban dari 4 perkara sebelumnya.

Sehingga jika ingin memperbaiki atau menghilangkan keburukan yang terjadi, maka alangkah baiknya jika semua warga berusaha memperbaiki perkara yang ke 5, yaitu kembali ke nilai-nilai Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s