Cakang Kapsul Lemak Babi

Sebenere aku udah bosan ama barang palsu, tetapi mau gimana lagi. Aku barusan lihat di ANTV ada pengumuman dari BPOM tentang  Cakang  Kapsul  dari lemak babi yang telah rame di Medan beberapa waktu lalu. Oleh BPOM diklarifikasi bahwa seluruh Cakang kapsul yang dibuat oleh Indonesia adalah Halal dan bukan dari lemak babi, berbeda jika cakang kapsul yang dibuat oleh negara laen. Dan perlu diketahui Indonesia tidak mengimpor cakang kapsul dari negara laen, kecuali diselundupkan oleh pihak tertentu (waduh lha ini yang ndak tau, perasaan indonesia udah terkenal barang selundupan dan bajakan🙂 … ). Lha sekarang gimana kalo itu adalah obat kapsul dari China? hehehehehhe ndak tau lah liat sendiri. Emang orang itu tega banget, obat aja udah dicampur dengan racun atau barang haram. Gimana mau sehat, ngimpi aja kalo mau sehat dengan barang haram.🙂

Sedangkan MUI berpendapat laen, bahwa obat buatan Indonesia pun tidak menutup kemungkinan ditutup dengan cangkang yang terbuat dari babi. Bisa jadi obat nantinya diharamkan yang memakai kapsul karena kandungan tersebut dan unsur ketidak pastian setelah keluarnya fatwa MUI yang berhubungan dengan kapsul lemak babi tersebut.

Secara umum dan sejak dari dulu cangkang kapsul terbuat dari gelatin, dan gelatin dapat terbuat dari tulang sapi atau tulang babi. Sekarang terserah anda mau minum obat dengan kapsul gak jelas atau sehat dengan makanan bergizi?

Rincian Sumbernya adalah sebagai berikut :

KAPSUL yang digunakan untuk mengemas obat-obat berbentuk serbuk, yang berasal dari luar negeri atau diimpor diduga mengadung lemak babi. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan Mohammad Hatta kepada wartawan di Medan akhir pekan lalu. “Hanya 20 persen obat yang halal karena dibuat dari sapi atau berbahan nabati seperti tumbuhan, selebihnya ditengarai bercampur sesuatu yang diharamkan,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pernyataan yang dirilisnya tersebut berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penelitian Pengawasan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). “Itu pernyataan dari Direktur LPPOM MUI Dr Aznan Lelo yang juga merupakan Farmakolog Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FKUSU). Hasil penelitian ini dijadikan referensi dalam menyosialisasikan produk-produk yang halal,” katanya.

Hatta menambahkan, dari hasil penelitian itu, Aznan Lelo menyatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukannya, 80 persen obat-obat impor yang menggunakan cangkang atau pelindung seperti kapsul tersebut mengandung babi. “Makanya diharamkan,” kata Hatta.

Meski demikian obat-obatan buatan dari dalam negeri, seperti obat generik, kata Hatta, tidak menutup kemungkinan juga mengandung unsur haram. Namun, dia menolak membeberkan merek-merek produk yang dikatakannya haram untuk dikonsumsi. Dengan alasan akan terjadinya gejolak jika nantinya nama-nama obat tersebut dipublikasikan.

Sedangkan untuk mengeluarkan fatwa tentang larangan untuk mengonsumsi obat-obatan berbentuk kapsul, Hatta mengatakan harus ada permintaan dari masyarakat atau produsen obat itu sendiri. “Permintaan dari masyarakat atau produsen itu akan dibahas dan hasilnya itu dijadikan fatwa,” katanya.

Tindakan yang dilakukan MUI Medan untuk mengantisipasi obat yang sudah jelas diharamkan itu sekadar mengimbau saja kepada masyarakat khususnya umat muslim. “Kita tidak bisa menyampaikan itu, karena kita tidak berkompeten, kita hanya bisa untuk masalah kehalalan produk untuk memperoleh sertifikasi halal,” kata Hatta.

Hatta mengungkapkan, hambatan MUI dalam melakukan penelitian sering berbenturan dengan hukum atau ketentuan yang ada karena pihak produsen sudah mengantongi izin dari instansi terkait. Meski pada prinsipnya produk yang disetujui tersebut belum tentu mendapat sertifikasi halal dari MUI. “Belum adanya payung hukum yang mengaturnya. LPPOM MUI Medan masih memiliki kewenangan sebatas melayani masyarakat yang ingin menjamin kehalalan produknya untuk dipasarkan,” tuturnya.

Untuk itu, Hatta berharap agar rancangan undang-undang (RUU) tentang jaminan hukum terhadap pelaku, pengedar, konsumen berbagai produk. “Rancangannya sudah ada, tinggal disahkan saja. Kalau RUU ini disahkan, kita akan mewajibkan semua produk-produk makanan, minuman, dan obat yang beredar di Indonesia harus mempunyai sertifikat yang menyatakan halal atau tidak sebelum dipasarkan,” katanya.

Sementara Kepala Badan Besar Pemeriksaan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan Supriyanto mengatakan, tidak mengetahui adanya temuan MUI tentang kandungan lemak babi dalam kapsul obat. Hal ini disebabkan pihaknya tidak ada menemukan kandungan yang dimaksud. “Kita tidak pernah mendapatkan obat yang mengandung lemak babi. Namun untuk membuktikan dugaan ini BBPOM harus tahu nama dan merek obatnya,” katanya.

Dikatakannya, unsur gelatin yang ada pada obat kapsul bemacam-macam. Ada terbuat dari unsur lemak sapi, rumput laut, dan juga lemak babi. “Obat yang ada di Indonesia diproduksi dalam negeri, meskipun bahan kimianya berasal dari luar,” katanya[rofx/jn] (muslimdaily.net

(http://ululalbablampung.com/?cat=8)

Ada kasus di mana kita memakan obat yang dicapsule. Seperti yang kita tahu cangkang kapsul itu terbuat dari gelatin. Gelatin bisa terbuat dari tulang sapi dan tulang babi. Tentu ini harus dihindari oleh kaum vegetarian. Permasalahannya ada beberapa jenis obat akan rusak bila terkena asam lambung dan akibatnya tidak memberikan efek farmakologis, dan makanya obat tersebut dibungkus dengan capsul agar bisa bertahan lebih lama di saluran cerna.

(http://www.wihara.com/forum/archive/index.php/t-839.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s